My Happiness
"Hidup hanya sekali, lakukan apa yang membuatmu senang, lakukan apa yang kamu lakukan dengan senang, lakukan untuk kebaikan sesama" (Afa)
Hal yang paling menyenangkan bagiku adalah bisa belajar dan berbagi. Tapi tidak mudah memang untuk menemukan apa yang sebenarnya paling disukai. Dulu, aku mengira suka menulis. Ternyata, menulis merupakan salah satu cara untuk menyalurkan hal utama yang ksukai, yaitu berbagi.
Berbagi apa? Informasi dan pengalaman seputar pendidikan, ilmu parenting, kisah hidup dan buku. I love reading. Sayangnya, hobi itu selama ini hanya semata hiburan. Belum berdampak untuk lingkungan sekitar. Terbatas pada diri sendiri. Teringat akan suatu hadits :
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289)
Baca selengkapnya: https://muslimah.or.id/6435-pribadi-yang-bermanfaat.html
Sejatinya berbuat baik pada orang lain sama halnya berbuat baik untuk diri kita sendiri. Meski terkadang ada saja hati ini yang ingin meminta balasan kebaikan dari orang yang ditolong. Namun sekali lagi jangan. Sebaik-baik balasan adalah yang datang dari Allah. Bahkan Allah menjanjikan balasan berlipat ganda untuk kebaikan yang kita lakukan.
Kamu lebih suka mana? Dikritik atau memberi kritik? Bagiku keduanya sama-sama bermanfaat jika digunakan dengan baik. Menerima kritikan terkadang juga terasa sulit. Kita sudah berusaha semaksimal mungkin tapi masih ada saja yang dicela dan lain sebagainya. Tetapi justru itu lah yang sebenarnya membangun diri ini untuk jauh lebih baik. Tentu jangan masukkan dalam hati. Cukup diambil saripati kebaikannya sebagai bahan evaluasi. Ada kalanya dikritik secara langsung (meski menyakitkan) lebih baik dibanding pujian selangit yang melenakan. Memberi kritikan juga harus berhati-hati jangan sampai orang yang dikritik tersinggung dan akhirnya justru memutus ikatan silaturahmi. Tunjukkan bahwa kritikan yang kita sampaikan baik adanya untuk membangun, untuk membuatnya semakin lebih baik bukan justru untuk menjatuhkannya.
Bidang yang kusukai terus berkembang selama proses hidup. Mulanya hanya terbatas pada kegiatan membaca. Seiring berjalannya waktu, memasuki dunia pendidikan di tingkat sarjana dan magister, berkembang pula kesenanganku untuk berbagi seputar dunia pendidikan, memegang peran sebagai ibu, kini bertambah pula kesenanganku untuk berbagi kehidupan seputar rumah tangga, orang tua dan anak. Tentu saja sekolah yang paling bermakna adalah universitas kehidupan. Semua orang yang kita temui adalah guru, semua bisa jadi murid, dimanapun tempatnya adalah sekolah.
Sudahkah kamu menemukan bahagiamu? Lakukan sepenuh hati agar berdampak untuk orang disekitarmu. Selamat berbahagia.
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289)
Baca selengkapnya: https://muslimah.or.id/6435-pribadi-yang-bermanfaat.html
Sejatinya berbuat baik pada orang lain sama halnya berbuat baik untuk diri kita sendiri. Meski terkadang ada saja hati ini yang ingin meminta balasan kebaikan dari orang yang ditolong. Namun sekali lagi jangan. Sebaik-baik balasan adalah yang datang dari Allah. Bahkan Allah menjanjikan balasan berlipat ganda untuk kebaikan yang kita lakukan.
Kamu lebih suka mana? Dikritik atau memberi kritik? Bagiku keduanya sama-sama bermanfaat jika digunakan dengan baik. Menerima kritikan terkadang juga terasa sulit. Kita sudah berusaha semaksimal mungkin tapi masih ada saja yang dicela dan lain sebagainya. Tetapi justru itu lah yang sebenarnya membangun diri ini untuk jauh lebih baik. Tentu jangan masukkan dalam hati. Cukup diambil saripati kebaikannya sebagai bahan evaluasi. Ada kalanya dikritik secara langsung (meski menyakitkan) lebih baik dibanding pujian selangit yang melenakan. Memberi kritikan juga harus berhati-hati jangan sampai orang yang dikritik tersinggung dan akhirnya justru memutus ikatan silaturahmi. Tunjukkan bahwa kritikan yang kita sampaikan baik adanya untuk membangun, untuk membuatnya semakin lebih baik bukan justru untuk menjatuhkannya.
Bidang yang kusukai terus berkembang selama proses hidup. Mulanya hanya terbatas pada kegiatan membaca. Seiring berjalannya waktu, memasuki dunia pendidikan di tingkat sarjana dan magister, berkembang pula kesenanganku untuk berbagi seputar dunia pendidikan, memegang peran sebagai ibu, kini bertambah pula kesenanganku untuk berbagi kehidupan seputar rumah tangga, orang tua dan anak. Tentu saja sekolah yang paling bermakna adalah universitas kehidupan. Semua orang yang kita temui adalah guru, semua bisa jadi murid, dimanapun tempatnya adalah sekolah.
Sudahkah kamu menemukan bahagiamu? Lakukan sepenuh hati agar berdampak untuk orang disekitarmu. Selamat berbahagia.
Comments
Post a Comment